info lowongan kerja terbaru - kerja di rumah
Showing posts with label Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Keluarga. Show all posts

SMS mesra di hp pasangan

Kemukakan pada pasangan bila hal itu mengganggu dan ingatkan pasangan bagaimana etika berkomunikasi dengan orang lain.

"Ma, tolong, ya, nanti kalau ada HP-ku bunyi dijawab, aku lagi tunggu pesan," pinta suami yang tengah di kamar mandi. Tapi kemudian, si istri pun iseng membuka menu-menu yang ada di HP (Handphone) itu. Begitu dia buka menu "Baca Pesan", tampak SMS (Short Message Services) berbunyi, "Kok, tadi enggak datang, sih, Say! Kan, ditunggu, lo." Ada juga bunyi, "Nanti, kalau proyek kamu bisa goal, aku cium, deh!"
Kaget, awalnya itulah biasanya yang terjadi. Selanjutnya, muncul pula kecurigaan dan cemburu pada pasangan. Apalagi kalau kemudian ketahuan SMS seperti itu sering berdatangan di HP pasangannya.

Dengan SMS, seseorang bisa menyampaikan suatu pesan secara cepat tanpa perlu bicara langsung Karena kepraktisan dan kepopuleran SMS itulah, maka isi SMS bisa sangat beragam. Bisa berupa informasi atau berita-berita yang berkaitan dengan pekerjaan, kabar penting dari rumah, kata-kata bijak, nasehat, makian, konyol-konyolan, sampai joke yang mengarah dengan bahasa mesra dan berani, bahkan mungkin vulgar.

SALAH INTERPRETASI
SMS dengan kata-kata mesra, apalagi dengan kalimat yang jelas menunjukkan keintiman, misalnya, "I miss You" atau "I Love You," bila sampai terbawa ke rumah bisa menimbulkan interpretasi yang berbeda pada suami/istri. Terlebih bila dia punya pandangan tertentu terhadap pasangannya. Misal, istri yang tak pernah menemukan suaminya bercanda yang konyol dan jorok, tapi lalu dia menemukan SMS seperti itu dalam ponsel suaminya, maka ada perasaan heran pada dirinya. "Apakah ini suami saya yang sebetulnya ataukah memang ada suatu hubungan istimewa yang lain?"

Dia tentu berpikirnya sudah menduga yang macam-macam, "Apakah ada sesuatu yang istimewa antara si pengirim SMS dengan pasangannya ini, karena, kok, bahasa yang digunakan itu bahasa yang harusnya ditujukan pada orang-orang yang istimewa." Apalagi bila pasangannya tak terbiasa masuk dalam dunia kerja yang seringkali unsur nonformalnya lebih mencuat atau tak terbiasa dengan joke-joke mesra dan vulgar, tentu saja dia jadi terheran-heran dan bertanya-tanya, "Kok, orang itu bisa SMS seperti itu, emangnya dia siapa?"

Suami/istri mungkin saja berpikir demikian karena dia punya norma-norma bagaimana berkomunikasi dengan orang lain yang bukan pasangannya. "Kalimat-kalimat mesra itu, kan, harusnya istimewa dan diberikan kalau dia punya hubungan khusus atau harusnya itu ditujukan pada pasangannya." Jadi, wajar jika akhirnya isi berita di SMS itu menimbulkan pertanyaan atau interpretasi berbeda pada si suami/istri.

Jadi, kembali lagi pada etika, bagaimana hubungan kerja, hubungan personal antarpribadi itu. "Memang mungkin SMS-nya itu sifatnya sekadar iseng atau jail, bukan yang sifatnya officially." Namun tetap saja harus tahu batas-batasnya dalam SMS. SMS sama saja berkomunikasi dengan orang lain, jadi norma-normanya sama saja dengan berkomunikasi secara langsung. Bukankah di dalam berkomunikasi, kita pun punya norma-norma bagaimana berkomunikasi dengan orang lain yang bukan pasangannya? "Kalimat-kalimat mesra itu, kan, harusnya istimewa dan diberikan kalau dia punya hubungan khusus atau hanya pada pasangannya."

Memang, dengan ber-SMS, tembok pembatasnya lebih longgar. "Orang bisa iseng pada yang bersangkutan tanpa perlu bertemu, tanpa perlu melihat bahasa tubuh, ekspresi dan banyak pertimbangan lainnya. Hingga, kala ada kebutuhan untuk mengobrol, gosip atau lainnya tanpa ada bukti yang terlihat ataupun terdengar, kecuali tampak memencet-mencet ponselnya tanpa diketahui dikirim ke mana, segala sesuatunya bisa tersembunyi."

SULIT MEMBUKTIKAN
Sulit untuk membedakan apakah ada suatu hubungan istimewa atau tidak antara pasangan kita dengan si pengirim SMS tersebut karena tak ada fakta atau buktinya. Misal, pada SMS yang berbunyi, "Kok, tadi tidak datang, Say? Kan, aku tunggu!", bisa saja pasangan mengatakan, "Iya memang saya menerima SMS seperti ini, tapi saya tidak datang ke tempat itu." atau "Tidak tahu siapa yang kirim SMS karena tadi HP dipinjam teman," dan banyak alasan lainnya. "Jadi memang pembuktiannya yang fair agak susah. Begitu pula dengan mengeceknya."

Begitu pun bila ada kata-kata "I Love You" pada HP pasangan, tetap tak bisa dilihat buktinya secara kasat mata. "Karena pasangan kita pun tak bertemu langsung atau membaca ekspresi wajah, dan lainnya. Sementara orang mengatakan 'I love you' itu, kan, perlu penegasan yang tak sekadar kata-kata, dia harus bisa mengekspresikannya, apakah dengan cara bicaranya yang halus, bahasa tubuhnya, atau sikapnya yang mengayomi. Semua itu, kan, tak terbaca pada SMS. Hanya sampai tahap gombal saja. Jadi mungkin masih sah saja, tak ada bukti kalau mereka ada apa-apa."

Lain hal kalau kemudian dari SMS itu ditindaklanjuti dengan bentuk-bentuk perhatian, semisal sering janji bertemu dan lainnya, hingga hubungan pun jadi berlanjut. "Nah, kalau sudah demikian, bisa saja jadi mengembangkan hubungan yang mengarah pada selingkuh. Selanjutnya, SMS hanya untuk memperkaya hubungan itu." SMS itu bukan sebagai penyebab selingkuh tapi hanya sekadar ajang komunikasi. "Untuk sampai terjadi selingkuh itu, kan, tergantung orangnya. Mungkin ada yang memang punya riwayat seperti itu, bisa saja terjadi."

Namun demikian, bila memang suami/istri merasa curiga karena isi SMS yang dianggap serius, maka bisa ditanyakan pada pasangannya, "Apa maksudnya ini dan arahnya ke mana?" Kalau si pasangan mengatakan cuma iseng, tapi bagaimanapun juga ada batas-batas yang tak boleh dilanggar, yaitu tak boleh terlalu berani atau terlalu vulgar. "Karena itu merupakan suatu ketidakpantasan, yang mana harusnya kalimat-kalimat mesra itu disampaikan hanya kepada pasangan masing-masing."

SEBAIKNYA SALING MENGINGATKAN
Bila SMS itu dari kacamata suami/istri jadi tak etis atau tidak dalam adab yang bagus, tentunya masing-masing harus saling mengingatkan pasangannya bahwa SMS itu bisa menimbulkan interpretasi yang macam-macam dari penerima lawan jenisnya. "Pasangannya itu sendiri pun harus tahu, dong, norma dalam etika pergaulannya.

Sebaiknya suami/istri juga bisa minta pada pasangannya untuk tidak meladeni atau membalas SMS yang tak terlalu perlu. "Kalau sekadar memberi informasi bisa saja dengan menanggapinya singkat, hanya mengirimkan ucapan terima kasih atau thanks saja sudah cukup." Kalau ternyata si pengirim terus mengirim SMS mesra alias pasangan merasa diteror SMS mesra oleh pengirim yang sama, bisa saja kemudian ganti nomor telepon atau tidak menerima nomor-nomor tertentu.

Ada baiknya juga, kalau suami/istri mendapatkan hal itu dari orang lain, sebaiknya dihapus saja. "Kalau dia memang tak ada apa-apa dengan pengirim SMS, tentunya dia pun akan bersikap terbuka pada pasangannya. Tapi sebenarnya dalam hal ini, persoalannya itu bukan pada masalah SMS-nya tapi pada perilaku orangnya. Jadi, agar tak sampai menimbulkan perkara dan memicu pertengkaran, sebaiknya hapus saja berita-berita yang tak diperlukan. Juga tak meladeni atau menanggapi kembali berita-berita yang tak perlu." Lebih aman begitu, kan, Bu-Pak.

baca selanjutnya...

Kekerasan Fisik dan Verbal

Dalam aksi mengkambinghitamkan anak,orang tua melakukan kekerasan, baik fisik maupun verbal. Secara fisik, contohnya, anak dicubit atau dipukul, bahkan tak jarang sampai meninggalkan memar atau malah luka lebam. Kekerasan verbal atau verbal abuse menggunakan kata-kata kasar bernada penghinaan pun tidak kalah menyakitkan buat anak. "Sebetulnya, ini yang lebih membahayakan karena merendahkan sekaligus menyinggung dan menyakiti perasaan secara personal. Dengan mengata-ngatai anak 'Jelek', 'Bodoh', atau 'Dasar anak enggak tahu diuntung!' dan sejenisnya."


Di sini yang jadi sasaran bukan fisik, melainkan aspek pribadinya dan ini jelas lebih membahayakan. Bukankah anak jadi sulit membangun konsep dirinya secara positif? Sementara dengan konsep diri yang negatif, anak jadi merasa dirinya tak kompeten alias rendah diri. Otomatis ia tak berani tampil, tak berani mencoba, hingga lebih sering menemukan kesulitan dalam bersosialisasi. Selain merasa tak disayang yang akhirnya memunculkan rasa iri dan marah pada siapa saja. Bukankah masalahnya jadi melebar dan kian memburuk.

Selain beratnya konflik yang dihadapi, pengkambinghitaman juga dipengaruhi kepribadian si orang tua sendiri. Di tangan orang tua yang memiliki kepribadian sadis sementara masa kecilnya juga tak bahagia, bisa saja kehidupan anak harus berakhir tragis.Semestinya,orang tua segera mengkomunikasikan masalahnya dengan pasangan tanpa harus mencari kambing hitam atau tempat pelampiasan kekesalan.

Bahkan kalaupun tingkat konfliknya tinggi sekali, orang tua tidak boleh seenaknya menghukum atau menyatakan hal-hal negatif tentang anak secara langsung dengan nada tinggi pula. "Baiknya dipikir dulu, deh. Entah dengan menghitung jari atau masuk kamar mandi sejenak untuk meredakan kemarahan." Selain harus bisa membedakan mana masalah yang jadi porsi dirinya dengan pasangan dan mana yang memang murni kesalahan anak. "Dengan kata lain, harus bisa berpikir rasional dan tidak terbawa emosi."

Kalaupun pernah sesekali keceplosan omong, bisalah ditoleransi. Akan tetapi mesti segera introspeksi diri dan berani minta maaf pada anak. Supaya anak tahu orang tuanya bukan malaikat tanpa salah. Jelaskan, "Maaf ya, tadi Mama ngomong seperti itu. Soalnya Mama lagi pusing banyak pikiran." Tentu saja permintaan maaf ini harus tulus dilakukan dengan sambil memeluk anak. Selain disertai niat untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Bila tidak dikemukakan, bukan tidak mungkin justru anak yang merasa terbebani. Dia pikir orang tuanya marah-marah gara-gara dia melakukan kesalahan.


baca selanjutnya...

Jangan bertengkar di depan anggota keluarga (anak).

Orang tua ataupun anggota keluarga lainnya,sebaiknya tidak bertengkar di depan anak,terlebih yang masih balita. Soalnya mereka belum mengerti apa-apa,sementar aspek peniruan atau modeling kuat sekali. Hingga kemungkinan besar anak pun akan meniru berkata kasar atau melampiaskan kemarahannya pada orang tua maupun keluarga / orang lain.Kemampuannya untuk berpikir sebab-akibat masih terbatas. Hingga ia pun masih sulit mencerna mengapa pertengkaran ibu-bapaknya bisa terjadi.

Selain itu, anak juga masih bersifat egosentris. Artinya, seluruh perhatiannya masih terpusat pada dirinya belum pada anggota keluarganya. Nah, pada anak yang sensitif bukan tidak mungkin ia akan menyimpulkan bahwa pertengkaran kedua orang tuanya sepenuhnya gara-gara dia. "Jangan-jangan karena aku”.Atau "Aduh, aku sama siapa kalau mereka pergi?" kalau kebetulan ia mendengar ayah/ibunya mengancam akan pergi. Tak heran kalau rasa cemas dan takut selalu membebani anak.

Kalau hubungan dalam keluaraga / perkawinan baik, biasanya mereka akan lebih sabar dan mudah memahami anaknya. Bukankah anak usia ini memang sedang memasuki masa negativistik, semisal jadi "hobi" membangkang hingga terkesan susah diatur, misalnya. Pasangan yang memiliki hubungan baik satu sama lain biasanya juga lebih mampu mengontrol diri.

Mereka mungkin memilih tempat di kamar atau di mobil di mana tidak ada anak.Sebaliknya,kalau hubungan perkawinan suami-istri / keluarga buruk, tak jarang justru pertengkaran sengaja dilakukan di depan anak agar anak tahu. Padahal di usia ini manalah mungkin mengharap anak bisa menilai/menentukan siapa yang salah dan benar di antara kedua orang tuanya.

baca selanjutnya...

Imbas kemarahan ortu terhadap keluarga / anak.

Hubungan ayah-ibu yang menyimpan amarah,jelas berimbas pada pola asuh anak. Semisal dalam penerapan disiplin anak didlm keluarga,ibu yang mengatakan,"Ayo, Dek, kamu harus tidur, jangan menonton TV aja!" justru akan dihadapi dengan sikap frontal si ayah, "Enggak apa-apalah, filmnya bagus!"Wah runyamkan,kalau satu keluarga sudah begini? Sementara ibu yang sudah dipenuhi emosi negatif bukannya mengkomunikasikan soal kedisiplinan ini pada suaminya, tapi malah menghardik si anak,"Dasar brengsek! Sama-sama susah diatur!"

Bukan cuma itu.Hubungan suami-istri yang memburuk memang cenderung mengkondisikan seseorang untuk mengorek-ngorek kesamaan pasangan dalam diri anak. Celakanya, kesamaan pada anak ini yang lantas dijadikan "tameng" untuk menyerang sekaligus berlindung dari pasangan. Nah, anak dengan kesamaan/kemiripan secara fisik maupun ciri kepribadian dengan pasanganlah yang biasanya dijadikan sasaran empuk.

Sangat mungkin pula terjadi.anak dendam atas perlakuan orang tuanya di masa lalu. Sewaktu kecil mereka tak bisa berbuat apa-apa membela dirinya. Selain dituntut untuk jadi anak baik-baik agar tak dianggap anak durhaka. Mau tidak mau seluruh perasaan negatifnya tentang orang tua dipendam terus sampai dewasa. Terlebih bila pengkambinghitaman tersebut sudah jadi menu sehari-hari dalam keluarga dan orang tuanya tak pernah meminta maaf.

Seyogyanya,orang tua mesti introspeksi jika anak berani mengekspresikan protes-protes kecilnya kepada keluarga / ortu.Semisal,"Mama jahat,aku enggak sayang sama Mama.", atau "Papa jangan marah-marah terus, dong!" Kalau ungkapan seperti yang muncul kenapa tidak dinetralisir dengan memberi penjelasan yang proporsional pada anak. Selain lewat ungkapan, orang tua pun mestinya bisa melihat ketidaksetujuan atau ketidaksukaan anak pada orang tua itu lewat ekspresi wajah. Hingga pandai-pandailah orang tua "membaca" apa yang tengah dialami anaknya.Mau menjadi ortu yang si hormati anak?Sayangilah anak anda.Mudah-mudahan bisa menjadi keluarga yang saling menghormati.

baca selanjutnya...

Kesal pada keluarga,anak jadi "KORBAN"

Kesal pada pasangan? Itu, sih, soal biasa. Tapi jangan lantas melampiaskannya pada si kecil, dong. Dampaknya buruk, lo!

Tanpa sadar banyak orang tua di dlm satu keluarga,saat bermasalah dengan pasangan lalu melampiaskan kemarahan/kekesalannya pada anak. Terlebih kala anak berperilaku buruk. Ironisnya, anak pun tetap jadi "korban" meski tak memperlihatkan perilaku buruk hanya karena kekesalan pada pasangan sudah mencapai puncak. Melakukan kesalahan sepele pun, dimarahi habis-habisan. Hingga bisa dibilang, masalah sebetulnya bukan bersumber dari anak, tapi pada si individu bersangkutan yang tidak bisa berkomunikasi maupun mengelola emosinya. Sementara yang jadi korbannya siapa lagi kalau bukan anak?

Beban pekerjaan di kantor, masalah keluarga dan konflik lain yang memunculkan kekesalan dan kemarahan pada pasangan, termasuk urusan ipar dan keluarga besar. Ironisnya, yang bersangkutan justru enggan membicarakan konflik tersebut dengan pasangan guna mencari solusi. Segudang alasan dikedepankan, mulai dari takut menyinggung perasaan pasangan / keluarga,tak mau ribut, atau malah saking kesalnya jadi ogah bicara pada pasangan. Tak heran jika akhirnya banyak pasangan yang memilih memendam kemarahan tersebut.

Padahal, kekesalan dan kemarahan pihak istri pada suami atau sebaliknya, bila dipendam akan terakumulasi alias kian bertumpuk dan membahayakan keharmonisan keluarga.Nah, dalam kondisi emosi yang bertumpuk, yang bersangkutan tetap membutuhkan orang atau anggota keluarga yang lain sebagai sasaran,istilah psikologinya” displacement”.Dan kalau anak yang dijadikan sasaran itu karena anak merupakan sosok yang paling gampang ditemui dalam keseharian di bandingkan anggota keluarga yang lain.Selain karena usia dan ukuran tubuhnya yang membuat si anak sebagai sosok tak berdaya.Jadi kelolalah emosi anda dengan baik,sehingga anggota keluarga khususnya anak tidak menjadi korban kemarahan anda.

baca selanjutnya...

Menuju Pernikahan membangun satu keluarga.

Setiap pasangan menyadari bahwa menikah adalah memasuki tahap penting dalam kehidupan ini untuk membangun sebuah keluarga.Tidak heran bila upacara pernikahan dan pestanya selalu diusahakan untuk meriah.Tapi bukan hanya pesta dan upacara yang harus dipentingkan tapi kematangan dari segi usia dan cara berpikir.

Jangan pernah berpikir lamanya jangka waktu pacaran,menandakan penyesuaian anda dengan si dia berakhir dan dapat membangun keluarga yang harmonis.Karena setelah menikah dan menjadi satu keluarga,segala sesuatunya bukan lagi saya tetapi berubah menjadi kita.Proses penyesuaian dari perubahan status diri ini akan berlangsung terus seumur hidup. Awal penyesuaian ini memang pada saat pacaran, namun agar proses ini efektif sangat dibutuhkan yang namanya komunikasi yang baik.

Pentingnya komitmen dalam keluarga sebagai sebuah kesepakatan yang berisikan penyesuaian sejumlah harapan yang ingin dicapai. Komitmen ini akan sangat berguna jika dalam kehidupan pernikahan anda,terjadi hal yang tidak diinginkan telah ada acuan yang akan membimbing jalannya bahtera pernikahan itu.Proses pembuatan komitmen dapat berjalan lancar apabila melalui suatu penyesuaian dan komunikasi yang baik. Karena pernikahan itu suatu pertemuan secara biologis, psikologis,ekonomis dan spiritual antara dua insan yang memadu cinta. Maka akan lebih baik,komitmen dalam keluarga dibuat meliputi aspek-aspek pernikahan itu.

Bagi pasangan yang dimabuk cinta, banyak yang tidak menyadari bahwa latar belakang kehidupan seseorang ikut mempengaruhi dalam memilih pasangan hidupnya.Ketertarikan pada seseorang tidak hanya berdasarkan penampilan fisik. Unsur kesamaan dengan sosok ideal, dapat membuat kita menjadi jatuh cinta pada seseorang.

Citra yang melekat pada orang itu, membuat kita mencintainya. Namun harapan yang terbentuk dari citra itu tidak selamanya akan menjadi kenyataan. Pada saat kenyataan itu tidak sesuai dengan harapan, maka diperlukan kedewasaan sikap dan pribadi masing-masing pihak untuk rela berkorban demi mencapai kebahagiaan keluarga bersama.

Begitu banyak permasalahan di sekitar anda yang akan mengguncang rumah tangga / keluarga anda. Bangunlah pondasi rumah tangga yang kokoh, selain beberapa upaya diatas, biasakan untuk selalu diskusi dengan pasangan dalam kehidupan sehari-hari.Maka tanpa disadari kita akan memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengelola konflik-konflik yang mungkin muncul dalam pernikahan / keluarga anda.

baca selanjutnya...

Inilah pembunuh perkawinan

Sebenarnya tidak ada seorang pun di dunia ini yang mengharapkan pernikahannya berantakan,tetapi kerap kali semua itu terjadi tanpa disadari.Pastikan bahwa keluarga Anda tidak sedang menghadapi satu dari antaranya.


Komitmen yang berlebihan dan kelemahan fisik.
Hal ini terutama membahayakan pasangan muda yang sedang mencoba sebuah profesi baru atau memasuki kembali jalur sekolah. Jangan mencoba untuk kuliah, bekerja penuh, memiliki seorang bayi, dan berbisnis pada waktu yang sama. Satu-satunya saat untuk bertemu hanyalah ketika keduanya sudah amat lelah. Sangatlah berbahaya memiliki seorang suami yang terlalu memiki komitmen dan istri tinggal di rumah bersama seorang anak yang belum sekolah. Anda harus menyediakan waktu satu sama lain jika ingin kasih sayang anda tetap bersemi.

Utang yang berlebihan dan pertengkaran tentang cara penggunaan uang.
Bayarlah secara kontan barang-barang yang dibutuhkan atau jangan membelinya sama sekali. Jangan memboroskan uang untuk membeli rumah atau mobil yang lebih mewah daripada yang anda mampu, sementara itu mengesampingkan pengeluaran untuk makan malam di luar, piknik dll. Tentukan penggunaan uang anda dengan bijak.

Keegoisan.
Ada dua macam manusia di dunia ini: pemberi dan penerima. Sebuah pernikahan yang melihatkan dua pemberi akan membangun pernikahan yang indah. Bagi seorang pemberi dan seorang penerima, pertengkaran merupakan acara sehari-hari. Tetapi dua orang penerima akan saling mencakar. Singkatnya, keegoisan akan menghancurkan sebuah pernikahan setiap saat.

Harapan yang tidak realistik.
Kayalan romantis banyak merasuki wanita yang memasuki pernikahan dengan antisipasi akan tinggal di rumah mewah, hidup senang tanpa ada gangguan apapun. Mereka mengharapkan lebih dari kemampuan suami mereka. Kekecewaan yang diakibatkan hal ini dapat menjadi sebuah jebakan emosi. Sesuaikanlah harapan anda dengan kenyataan.

Alkohol, porno grafi, judi, dan kecanduan lainnya.
Alkohol atau penggunaan obat-obatan bukan saja merupakan pembunuh pernikahan, namun jadi pembunuh manusia. Sama halnya dengan pornografi,judi, dan kecanduan lainnya. Menghindarinya adalah sama seperti menghindari wabah penyakit berbahaya.

Ketidakpuasan seksual, kesepian, harga diri yang rendah, dan ketidaksetiaan
Sebuah kombinasi yang mematikan!

Kegagalan dan kesuksesan bisnis
Meraih sukses secara tiba-tiba sama bahayanya dengan jatuh bangkrut secara menyedihkan.Mereka yang memiliki kekayaan berlimpah ruah kadang kala menjadi mabuk kekuasaan dan selalu bernafsu untuk mendapat lebih. Dan saat itulah istri dan anak-anak dilupakan.

baca selanjutnya...

6 pelajaran dari buah hati kita.

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Tentu Anda setuju dengan peribahasa ini, namun sebenarnya tak hanya pengalaman pribadi yang bisa menjadi guru. Tingkah laku anak-anak kita pun dapat menjadi guru yang baik bagi kita untuk belajar. Tanpa kita sadari mereka telah memberikan pelajaran yang baik. Apa saja yang mereka ajarkan ke kita sebagai orang tua?

1. Nikmati Hidup
Anak-anak selalu menikmati dan memberi perhatian penuh pada apa yang mereka lakukan. Itu sebabnya mereka enggan meletakkan mainannya untuk makan di meja atau pergi tidur. Kita memang harus berpindah dari aktivitas satu ke aktivitas lain, tapi secara tidak langsung anak-anak mengajari kita untuk menikmati hidup.

2. Maafkan Kesalahan
Pernahkah Anda marah dan membentak anak Anda? Setelah melihat air matanya, mungkin Anda akan menyesal dan meminta maaf. Anak-anak mudah membuat kita mengaku salah dan mereka selalu siap untuk berbaikan lagi. Tapi kita juga perlu menjaga perasaan orang lain dan siap untuk memperbaiki hubungan saat kita melakukan sesuatu yang kita sesali di kemudian hari.

3. Beri Kendali Pada Orang Lain
Anak-anak tahu mereka tidak dapat mengendalikan segalanya karena mereka biasa didoktrin apa saja yang harus mereka lakukan. Orang dewasa memiliki hidup yang lebih kompleks, tapi kita harus belajar membiarkan orang lain mengambil alih. Memang tidak gampang membiarkan orang mengambil alih dan membuat keputusan untuk kita, tapi kadang Anda bisa melakukannya. Sehingga Anda akan merasa beban yang ada di pundak sedikit berkurang. Paling tidak Anda akan merasakan adanya perasaan bebas dari tanggung jawab, seperti anak-anak.

4. Dunia Ini Indah
Hidup ini penuh dengan hal yang mengagumkan. Mata anak-anak melihat hal-hal yang indah yang biasanya tidak kita acuhkan, bunga dengan tangkai dan baunya yang khas, bayangan pohon di genangan air, kicau burung. Jika Anda berhasil menemukan keindahan dari hal-hal kecil, Anda tidak akan sulit menikmati hal-hal yang lebih besar.

5. Senyum untuk Semua Orang
Tak seorangpun bisa mengabaikan senyum seorang bayi. Tapi bukan cuma bayi yang punya kekuatan untuk menyebarkan kegembiraan: senyum lebar di wajah Anda akan mencerahkan hati setiap orang yang melihatnya.

6. Orang Lebih Berharga daripada Benda
Anak-anak mencintai barang-barangnya - boneka atau mobil-mobilan favoritnya mendapat tempat teratas dalam hati mereka. Tapi yang paling penting dalam hidup mereka adalah orang yang mereka cintai. Sangat indah, membuat Anda menyadari betapa berharganya keluarga bagi Anda.
Jadi, tak ada salahnya kan bila sesekali orang tua belajar pada anak-anak?

baca selanjutnya...

Menyimpan atau mengoleksi.

Jangan dibuang, itu masih perlu. Itu juga jangan, sayang kalau dibuang," ujar sang suami kepada istrinya yang tengah sibuk berbenah merapikan tumpukan di ruang kerja. Padahal, dalam tumpukan tersebut banyak ditemukan barang yang jelas sudah tidak dipakai, seperti hasil ujian suaminya ketika zaman sekolah dan agenda kerja 6 tahun lalu.

Jika pasangan adalah orang yang menyenangi kerapian dan kebersihan, maka ia punya kecenderungan membuang segala macam yang dianggap "sampah". Ia merasa bertanggung jawab atas kerapian dan kebersihan rumah. Tangannya selalu gatal melihat kertas, buku, atau pernak-pernik lain yang dianggapnya berantakan atau tak pada tempatnya. Belum lagi kalau barang-barang atau kertas-kertas itu sebetulnya sudah usang. Justru, jika tak dirapikan dan dibereskan, mungkin keadaan dalam rumah akan semakin berantakan. Jumlah segala tumpukan kertas atau lainnya semakin menjadi-jadi karena akan terus bertambah.

Yang sering memicu konflik adalah bila pasangan yang hobi "memulung" malas merapikan barang-barangnya, sementara pasangan lainnya hobi berbenah dan membuang benda-benda yang sudah tidak enak dipandang mata. Oleh karena itu, mintalah izin kepada si pemilik barang bila ingin membenahi koleksinya. Tanyakan pula pada pasangan, apa saja yang boleh dibuang dan yang tidak. "Ini mau diapakan? Apakah kamu mau membereskannya sendiri? Kalau aku yang bereskan mana yang boleh kubuang?" atau, "Kamu sebaiknya pilah dulu mana yang mau dibuang dan nanti sisanya saya yang rapikan." Bila pasangan tak mau memilah, katakan saja secara baik-baik bahwa barang yang disimpannya sudah menumpuk atau terlampau banyak.

Jika pun sampai terjadi konflik, selesaikankah dengan bijaksana. Jangan sampai urusan sepele jadi lebih penting daripada pasangan. Bila memang tanpa sengaja benda-benda penting itu terbuang, maka siapa pun yang melakukannya harus meminta maaf. Pasangan yang merasa dirugikan pun hendaknya berbesar hati menerima kekhilafannya. Bila kebiasaan menumpuk barang disebabkan kesembronoan, maka hendaknya perilaku tersebut diperbaiki. Namun, bila maksudnya menyimpan atau mengoleksi, maka harus dihargai. Hanya saja dalam hal itu tetap dituntut tanggung jawabnya, selain juga harus bisa menjaga perasaan pasangan.

baca selanjutnya...

Belum Haji sudah mabrur.

Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta. Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri.?

Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah. Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja,Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta.Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.

Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya. Setelah emaknya meninggal Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini zaman apa. Anak itu harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lagi-lagi terdampar di Jakarta. Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus. Untung di kampung kami ada pesantren kecil. Para santrinya adalah anak-anak petani yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah.

Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi pengurus. Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan sejak itu saya melihat Yu Timah memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.

Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah. ''Pak, saya mau mengambil tabungan,'' kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil. ''O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup.
Bagaimana bila Senin?''
''Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.''
''Mau ambil berapa?'' tanya saya.
''Enam ratus ribu, Pak.''
''Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?''
Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu.
''Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi
dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.''

Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi
kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan
tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang
tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh
keinginan Yu Timah membeli kambing kurban.
''Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus
ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan
wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi,
apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing
kurban?
''Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama
ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi
pemberi daging kurban.''
''Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.''
Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta
diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.
Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri.

Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban
yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya? Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak
orangnya. Mungkin saya juga begitu. Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus.
Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan
daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji.
oleh : Ahmad Tohari

baca selanjutnya...

Mandikan aku Bunda.

Sering kali orang tidak mensyukuri apa yang dimilikinya sampai akhirnya...

Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ''Why not the best,'' katanya selalu, mengutip seorang mantan presiden Amerika. Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran. Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ''selevel''; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.?


Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah ''alif'' dan huruf terakhir ''ya'', jadilah nama yang enak didengar: Alifya. Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang pertama dan terakhir.

Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Setulusnya saya pernah bertanya, ''Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal?'' Dengan sigap Rani menjawab, ''Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK!'' Ucapannya itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter mahal. Rani tinggal mengontrol jadual Alif lewat telepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti.

Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang banyak. ''Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.'' Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya. Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik. Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali menagih pengertian anaknya.

Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini ''memahami'' orang tuanya. Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek.
Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Rani menyapanya ''malaikat kecilku''. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga ini.

Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby sitter. ''Alif ingin Bunda mandikan,'' ujarnya penuh harap. Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar. Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Alif agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya. Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya cemberut.Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. ''Bunda, mandikan aku!'' kian lama suara Alif penuh tekanan. Toh, Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa ditinggal juga.

Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. ''Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency.'' Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late. Allah swt sudah punya rencana lain. Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya.
Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang menyimpan komitmen untuk suatu saat memandikan anaknya sendiri.
Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. ''Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,'' ucapnya lirih, di tengah jamaah yang sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis.

Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung di sisi pusara. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu, berkata, ''Ini sudah takdir, ya kan. Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga kan?'' Saya diam saja. Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari orang lain. Suaminya mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya kosong. ''Ini konsekuensi sebuah pilihan,'' lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja.
Tiba-tiba Rani berlutut. ''Aku ibunyaaa!'' serunya histeris, lantas tergugu hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih tangisan yang meledak. ''Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif..'' Rani merintih mengiba-iba. Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup di atasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif. Senja pun makin tua.
Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi menolong.

Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan kehilangan yang amat sangat.
Sering kali orang sibuk 'di luaran', asik dengan dunianya dan ambisinya sendiri tidak mengabaikan orang-orang di dekatnya yang disayanginya. Akan masih ada waktu 'nanti' buat mereka jadi abaikan saja dulu. Sering kali orang takabur dan merasa yakin bahwa pengertian dan kasih sayang yang diterimanya tidak akan hilang. Merasa mereka akan mengerti karena mereka menyayanginya dan tetap akan ada. Pelajaran yang sangat menyedihkan.
Semoga yang membacanya bisa mengambil makna yang terkandung dalam kisah tsb.

Catch the chance, keep and manage it well

baca selanjutnya...

Peringatan bagi orang tua.

Walaupun anda tidak/belum punya anak kecil sekalipun,tolong sebarkan informasi ini kepada semua saja yang mungkin membutuhkan, yang dapat anda ingat. Anda tak pernah bisa tahu siapa yang akan anda selamatkan dengan memberikan informasi ini..?

Ini adalah sharing kami atas suatu kejadian yang terjadi pada hari itu sewaktu sedang belanja di Carrefour.
Seorang ibu sedang melongok persediaan daging yang ada, dan sesaat kemudian berbalik dan menemukan bahwa anak perempuannya yang berumur 4 tahun tidak berada lagi ditempat / hilang. Pada saat itu kebetulan saya sedang berdiri disamping ibu tersebut, dan kemudian ibu tersebut memanggil manggil anaknya tetapi tanpa hasil.

Saya kemudian meminta tolong kepada seorang pegawai Carrefour untuk
mengumumkan kehilangan anak tersebut melalui pengeras suara. Pegawai tsb dengan segera berjalan disamping saya kesebuah telepon yang tersedia dan mengumumkan bahwa semua pintu dan jalur keluar manapun supaya segera ditutup/dikunci dengan menyebutkan sebuah kode tertentu.Kemudian seluruh pintu / jalan keluar dengan segera ditutup. Keseluruhannya ini hanya butuh waktu 3(tiga) menit sejak saya meminta untuk diumumkan.

Mereka kemudian berhasil menemukan si anak kecil tersebut dalam keadaan
terbius di salah satu ruang kamar mandi yang ada. Kepalanya sudah setengah dicukur, hanya mengenakan pakaian dalamnya saja, dan ada tas pakaian, sebuah pencukur (razor) dan sebuah wig dilantai disampingnya. Jadi siapapun orang ini, dia berhasil mengambil anak kecil tersebut, membawanya ke toilet, mencukur separuh kepalanya dan melepaskan pakaiannya hanya dalam waktu kira-kira kurang dari 10 menit. Apa yang terjadi seandainya penjahat tsb berhasil merubah penampilan anak tsb ?

Hal mana membuat saya geleng-geleng kepala, hampir tidak dapat dipercaya. Jadi harap mengawasi anak/cucu anda ketika sedang berada di tempat terbuka seperti Mall Mall dimana akan sangat mudah terpisahkan secara tak sengaja. Dalam kasus diatas hanya dibutuhkan waktu yang sedemikian pendeknya untuk melaksanakan kejahatan itu.

5 menit lagi saja dan anak tersebut akan sudah lewat dari pintu dan hilang.
Hingga saat ini saya masih tidak habis pikir bagaimana mungkin ada orang yang segila ini, apalagi dapat melaksanakan hanya dalam hitungan menit saja.
Si gadis kecil tersebut memang baik baik saja berkat karyawan yang sigap, perhatian dan tidak mau mengambil resiko.Sekali lagi,perhatikan dan jagalah anak / cucu anda di tempat keramaian.

baca selanjutnya...

Bersyukur & bersyukur.

Benar kata Ralph Waldo Emerson,usahawan sekaligus pemikir tenar Amerika.Jika bintang-bintang di langit hanya muncul sekali dalam seribu tahun,pasti manusia akan terpesona dan terkagum-kagum.Betapa manusia akan mengabadikan pengalaman itu untuk para anak cucunya.Tapi karena setiap malam keindahan itu dikirimkan kepada kita dan hal-hal lain yang mudah kita peroleh betapun nilainya,kurang kita hargai.Padahal dibalik hal-hal biasa atau peristiwa yang amat lumrah terjadi,terkadang terselip keajaiban-keajaiban.?

Seperti kejadian biasa yang saya temui hari ini.Selesai makan siang ketika berjalan di trotoar,saya mampir ke sebuah warung untuk membeli permen.Di balik kacamata gelapnya,pemuda penjaga warung amat simpatik dan ramah.Kami sempat ngobrol sejenak.Ketika saya berpamitan,pemuda tersebut berkata,"Terima kasih Pak,anda amat baik.Tak banyak orang lalu lalang yang masih mau ngobrol dengan orang buta seperti saya."Saya terhenyak.Dalam hati kecil, saya bersyukur kepada Tuhan,masih dikarunia mata yang bisa melihat.

Dalam perjalanan pulang,melewati sebuah taman,saya melihat seorang anak gendut sehat,tampak bengong menyaksikan teman-temannya bermain dan bernyanyi."Lo,dik.Kok tidak ikut main bersama teman-teman di taman?"Anehnya,si anak diam saja sambil menatap saya.Belakangan saya tahu rupanya ia tuli.Kalau mengingat kata-kata Emerson di atas,rasanya kita memang selalu harus mengingat tiga hal dalam hidup ini.Yakni bersyukur,lalu bersyukur,dan bersyukur lagi.

baca selanjutnya...

Bookmark to:http://1keluarga.blogspot.com Icio Bookmark to:http://1keluarga.blogspot.com Digg Bookmark to:http://1keluarga.blogspot.com Del.icio.us Bookmark to:http://1keluarga.blogspot.com Facebook Bookmark to:http://1keluarga.blogspot.com Reddit Bookmark to:http://1keluarga.blogspot.com Propeller Bookmark to:http://1keluarga.blogspot.com Furl Bookmark to:http://1keluarga.blogspot.com Yahoo Bookmark to:http://1keluarga.blogspot.com Google Bookmark to:http://1keluarga.blogspot.com Blinklist Bookmark to:http://1keluarga.blogspot.com Diigo Bookmark to:http://1keluarga.blogspot.com Technorati Information